Tentang Nyali dan Penolakan

Ada kalanya ketika kamu temui sesuatu yang sangat pas untuk mu, yang membuatmu mengiyakan hampir semua daftar kriteriamu, lalu kamu sadar bahwa ada satu sisi dari sesuatu itu yang tak bisa kamu terima dengan lapang dada. Kamu mendadak takut, takut untuk kecewa. Kamu bersikap seolah Tuhan telah lagi-lagi memberikan sesuatu secara tidak sempurna, tidak seperti yang kamu harapkan. Kamu menjadi gemar menggunakan kata “sayangnya,..” atau “duh, harusnya seperti ini, seperti itu..”. Kamu yang begitu perhitungan kini menjadi seseorang yang tak punya nyali untuk menerima semua hal baik yang ada pada sesuatu itu hanya karena satu sisi darinya yang kamu bayangkan akan membuatmu bersusah hati. Padahal satu sisi yang tidak bisa kamu terima itu tidaklah fatal dan bisa diusahakan. Ya, kamu cuma terlalu takut untuk menghadapi hal-hal buruk yang mungkin hanya ada di pikiranmu saja. Kamu perhitungkan ini, perhitungkan itu, tanpa memperhitungkan ada atau tidaknya kesempatan untuk sesuatu itu datang lagi kedalam hidupmu. Betapa kamu tak menghiraukan kata hati dan terus mengikuti logika. Memang, logika membuatmu merasa benar tapi tidak membuatmu tenang dalam menerima kenyataan. Kenyataan pahit yang lambat laun akan kamu terima jika sesuatu itu memang benar yang terbaik untuk mu, namun kamu tolak hanya karena kamu tidak punya nyali yang cukup besar dan tidak ingin berusaha lebih. Hanya karena logika yang memberimu alasan-alasan yang bisa jadi akan kamu sesali di masa depan tapi membuatmu merasa bertindak benar sekarang. Mengapa tidak kamu seimbangkan saja alasan yang logika dan hatimu berikan?

Mungkin sebagian dari dirimu bertanya – tanya mengapa tidak saya coba dulu saja atau mengapa tidak saya usahakan dulu saja. Tapi, kamu yang sedari awal merasa menerima sesuatu itu hanya akan membuatmu bersusah hati, tanpa sadar telah menciutkan nyali mu sendiri.

Apa yang kamu takutkan? Kehilangan? Bukankah dengan menolak maka otomatis kamu menghadiahi dirimu sendiri kehilangan? Mungkin kamu berpikir bahwa setidaknya kamu memperkecil kekecewaan yang mungkin ada nantinya. Tapi, siapa yang tahu? Bukankah pada akhirnya kita semua akan kehilangan? Semakin tua maka akan semakin kehilangan bahkan dihilangkan. Bukankah yang terpenting adalah belajar dari kehilangan itu sendiri? Lalu jika hanya karena sedikit saja ketidaksempurnaan yang Tuhan hadirkan pada sesuatu itu untuk menguji mu dan kamu meresponnya dengan penolakan karena takut kecewa yang lantas membuatmu takut untuk berusaha padahal mungkin saja sesuatu itu adalah yang terbaik bagimu, boleh saya melabelimu seorang pengecut?

Pacarnya Tugas

Saya lagi ngerasa jadi pacarnya tugas. Itu, ungkapan saya kepada kami, mahasiswa & mahasiswi yang diminta mengencani makalah, jurnal, diktat, review-an, dan laporan ini itu dalam waktu yang hampir bersamaan.  Jangankan malam minggu, tiap malam saya habiskan waktu saya bersama mereka. Romantis, bukan? Saya sayangi, saya perhatikan, saya urus dengan rapi, dan saya tunjukkan kepedulian saya yang tinggi kepada mereka. Tapi akhir-akhir ini, saya menemui “teman kencan” saya itu dengan lusuh, lesu, bahkan dekil. Gimana engak? Gara-gara mereka saya jadi kekurangan waktu kencan dengan bantal dan selimut saya. Mereka berjubel-jubel memaksa untuk baris di daftar atas dalam daftar prioritas saya. Mereka memang egois. Dan saya mungkin pacar yang kurang pengertian. Hidup saya di beberapa minggu ini berasa hanya kencan dengan satu tugas dilanjutkan dengan tugas lainnya. Mereka lagi, mereka lagi. Sehingga saya pun harus menjalani rutinitas yang sama setiap hari, yaitu mengencani mereka yang membuat hidup saya semakin datar saja. Saat ini saya sedang berada pada titik jenuh dengan mereka. Saya muak, saya bosan, saya kehilangan semangat untuk mengencani mereka lagi. Mereka tidak menarik. Saya tidak terpesona dibuatnya.  Tanggung jawab memang, tapi kalau sudah sesering itu kencan paksa nya, terkadang saya merasa mereka adalah beban yang harus segera saya singkirkan. Saya kerap melupakan mereka, lalu mereka seperti ngambek dan datang dengan tuntutan yang lebih banyak lagi. Saya akan dipaksa menghabiskan banyak waktu dengan mereka lagi. Anehnya, mereka akan sangat gembira ketika melihat papan jadwal saya dipenuhi dengan jadwal mengencani mereka. Huh. Betapa tidak pengertiannya mereka. Saya sangat ingin cepat – cepat menyudahi semua kencan paksa disemester ini dan segera didatangi liburan, agar saya bisa mengisi papan jadwal saya dengan kencan bersama pacar yang sebenar-benarnya pacar #eh.

Manusia Sentimental

Kalau saya boleh memberikan satu nama julukan untuk mu, maka dengan senang hati saya akan memanggilmu dengan sebutan Manusia Sentimental.

Bagaimana tidak? kamu memilih satu baju kemudian mengenakannya, lalu terpikir oleh mu kelak baju itu akan memberi kerugian untuk mu atau akan tak bagus dimata gebetanmu, akhirnya kamu menggantinya lagi dengan baju yang lain. Begitu seterusnya hingga hampir semua baju dilemari kamu coba dan kamu pun frustasi merasa semua baju di lemari mu tak berguna.

Kamu naik bis kota dengan susah payah dan berebutan untuk dapat tempat duduk, kemudian bis kota tersebut memutarkan lagu melow yang kamu rasa sedang menggambarkan perasaanmu. Seketika kamu merasa dunia terlalu kejam karena terus – menerus membuatmu ingat akan perasaanmu yang galau itu. Lalu kamu menangis, menyalahkan bis kota yang tak tahu apa-apa, dan mengutuknya, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk turun sebelum tempat tujuanmu. Lalu kamu seperti gembel terlantar tanpa arah dan tujuan di pinggir jalan yang berasap dan berdebu.

Suatu ketika kamu melihat temanmu sedang berbisik – bisik di dekatmu. Saat itu juga kamu mulai menaruh curiga pada temanmu. Kamu curiga mereka sedang membicarakan tentang mu. Tentang keburukanmu. Lalu kamu pergi menyendiri dan mulai meng-update status di socnet/BBM mu tentang betapa jahatnya menurutmu teman – teman mu itu. Padahal belum tentu mereka membicarakanmu. Padahal yang ada hanya kamu yang terlalu merasa.

Kamu merasa sedang ada yang “menyerang” dan hendak menyakitimu. Lalu kamu bersiap dan memasang “tameng”. Padahal tak pernah ada yang berniat menyerang atau menyakitimu. Lalu kamu sadar dan kamu kecewa. Kemudian kamu menciptakan suasana seolah – olah ada yang sedang menyerangmu. Kamu bersedih bak manusia paling merana sejagad raya. Kamu membuat dirimu terlihat perlu dikasihani sekaligus dibela. Padahal kamu sendiri yang menyulut api dalam ruangan. Kamu pula yang bermain – main dengan api dan berusaha menarik orang lain untuk ikut bermain api juga. Tidak sadarkah kamu bahwa pada akhirnya yang akan terbakar adalah kamu sendiri beserta ruangan yang kamu bikin sendiri juga?

Kamu mulai merasa seolah – olah dunia sedang mengolok – olok mu dengan menunjukkan beragam kejadian yang mirip dengan apa yang terjadi dalam hidupmu. Kamu menonton sinetron dan merasa cerita sinetron tersebut menyinggungmu. Kamu membaca status/tweet di socnet temanmu yang bernada sarkasme dan kamu pun merasa ia sedang menyindirmu. Kamu galau. Kamu kalut. Kamu gundah gulana. Kamu mulai mencaci dan memaki apapun. Kamu seperti dikejar sesuatu. Padahal sesuatu itu adalah bayangan dirimu sendiri yang kamu buat menjadi jahat. Yang kamu buat seolah – olah sedang ada orang lain yang ingin menghancurkan kamu dan hidupmu. Padahal itu adalah bayangan yang sedang dikuasai oleh pikiranmu sendiri.

Kamu terlalu perasa, kelewat sensitif. Kamu terlalu sering berburuk sangka. Dan akhirnya buruk sangka mu itu lah yang mengejar mu. Ia seakan momok bagimu, membuat hidup mu tidak tenang, membuatmu sering menyendiri, marah – marah tanpa alasan, dan meng-update status/tweet galau atau status/tweet penuh cacian dan makian hampir setiap hari yang dengan tanpa kamu sadari kamu telah menularkan aura negatif pada orang lain yang membacanya. Mungkin pada awalnya orang – orang akan kasihan padamu, berniat membelamu, atau sekedar menaruh simpati padamu. Tapi lama – kelamaan mereka eneg denganmu. Berubahlah!

Kamu dan Paradoks

Lama-lama aku menyadari bahwa aku terjebak dalam paradoks mu. Kamu dan segala paradoks mu itu seringnya mengurungku dalam labirin yang tak ku ketahui dimana pintu keluarnya. Membuat pikiran ku bertambah rumit saja. Kamu dan paradoks mu itu membuat impuls dalam otak ku bekerja lebih berat.

Tapi aku tak ingin meninggalkanmu.

Sebetapapun sulitnya aku memahami paradoks yang ada dalam hidup mu, sesusah apapun bagi ku untuk mencerna alasan – alasan dalam paradoks hidup mu itu, sesering apapun aku menggeleng bingung dan menghela nafas tak lega melihat sikap mu itu, aku tetap tak ingin menghindarimu. Aku akan ada disampingmu. Aku akan menjadi telinga terbaik mu sekaligus penguat bagimu. Aku akan berpura – pura mengerti tentang keparadoksan mu. Aku akan mencari dimana pintu keluar labirin pikiran yang kau buatkan untuk ku itu. Aku akan tertawa kecil saja ketika kau menceritakan hal yang membuat ku menemukan paradoks baru dalam hidup mu seraya menepuk lembut pundakmu. Lalu kita akan tertawa bersama dan menemukan hal lain yang akan membuat kita tertawa lagi. Aku akan dengan senang hati mengingat semua paradoks mu itu dan menemukan jawaban dari setiap mengapa ku terhadap keparadoksan mu itu. Aku akan membelamu ketika orang – orang mempermasalahkan paradoksmu itu. Aku akan setia ada disampingmu dengan segala keparadoksan yang kelak akan bisa ku pahami.

Tenang, ini bukan paradoks kok.

Syubhat

Tidak adil rasanya ketika saya yang sekarang majoring teknologi pangan di salah satu universitas negeri di Indonesia menulis tentang hal yang berkaitan dengan perasaan melulu di blog ini. Nah, karena itu lah izinkan saya untuk berbagi tentang pangan agar kesahan blog ini lebih terasa. #naonlah #abaikan #hehe

Salah satu hal yang menarik dalam pangan menurut saya adalah tentang kehalalan pangan. Perkara kehalalan pangan merupakan hal mendasar yang penting diketahui oleh umat muslim sebagai pegangan apakah pangan tersebut halal, haram, atau syubhat. Hal ini penting karena umat muslim dilarang untuk mengkonsumsi makanan/minuman yang bersifat haram. Allah swt berfirman:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 168)

Baik yang halal maupun yang haram sudah jelas hukum – hukum nya. Mana yang jelas – jelas halal dan mana yang jelas – jelas haram sudah memiliki aturan masing – masing. Namun, dari perkara kehalalan pangan tersebut, ada yang termasuk dalam golongan syubhat. Apa itu syubhat? Dalam terminologi Islam, Syubhat berarti ada diantara halal dan haram atau belum ada kepastian hukumnya. Artinya, pangan tersebut sifatnya meragukan, tidak jelas dasar hukumnya, serta masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menyikapi pangan seperti ini, hendaknya seorang Muslim menjauhinya atau lebih baik meninggalkannya, karena perkara-perkara yang syubhat lebih dekat pada hal yang diharamkan. Sebuah hadits berbunyi:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak mengetahui. Siapa yang menjaga dari yang syubhat, maka selamatlah agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yang haram. (HR. Bukhori dan Muslim)

Namun, keadaan real justru cenderung tidak mendukung keinginan untuk mejauhi syubhat tersebut. Hal ini dibuktikan dengan hasil survey yang dilakukan oleh MUI, dari 30ribu sample makanan dan minuman yang beredar di Indonesia hanya 30% dari jumlah tersebut yang berkategori halal, sisanya tidak jelas alias syubhat. Kesyubhatan makanan/minuman tersebut dapat disebabkan oleh bahan baku yang tidak jelas kehalalannya atau proses pengolahan makanan/minuman tersebut yang juga tidak jelas. Terlebih di era serba teknologi seperti sekarang ini, proses seperti penyembelihan hewan halal bisa saja menjadikan makanan/minuman tersebut menjadi syubhat karena tidak diketahui bagaimana proses penyembelihannya. Mungkin saja proses penyembelihan hewan tersebut tidak berdasarkan syariat islam sehingga menjadikannya tidak halal.

Dalam bahan baku produk pangan itu sendiri sering terdapat bahan – bahan yang dapat menjadikannya tidak halal namun susah untuk diketahui kebenarannya. Misalnya saja produk makanan yang mengandung lemak hewani. Lemak hewani tidak jelas apa hewannya. Bisa saja hewan yang jelas – jelas tidak halal seperti babi. Ada istilah tersendiri untuk lemak babi, yaitu Lard. Jika terdapat lard pada komposisi makanan/minuman maka produk tersebut jelas tidak halal. Berbeda dengan yang sudah jelas tercantum seperti itu, lemak babi sendiri, khususnya di negara non muslim merupakan lemak yang sering digunakan dalam memproduksi makanan/minuman. Dikarenakan lemak babi relatif lebih mudah didapat dan membutuhkan biaya produksi yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainnya. Jika kemudian babi menjadi sumber dari lemak hewani tersebut maka tidak halal lah produk tersebut. Hal tersebut juga berlaku untuk keju dan whey. Keju diperoleh dari proses fermentasi susu yang melibatkan rposes enzimatis. Enzim yang digunakan adalah rennin (rennet). Enzim ini berasal dari lambung hewan sapi atau babi. Nah, jika enzim tersebut berasal dari lambung babi maka akan bersifat haram. Whey sendiri yang merupakan hasil samping dalam pembuatan keju dapat pula dipertanyakan status kehalalannya karena tergantung dari keju itu sendiri. Akan tetapi, sulit bagi konsumen untuk memperoleh informasi tentang sumber lemak hewani terebut sehingga produk yang seperti ini kemudian termasuk dalam golongan syubhat.

Selain itu, banyak juga produsen makanan/minuman yang menggunakan kode E-number. Yaitu kode yang digunakan untuk bahan aditif makanan yang biasanya ditemukan pada label makanan di Eropa. Menurut banyak kalangan, penggunaan E-number ini merupakan cara untuk menutupi ingredient yang bersifat haram agar produk tersebut masih bisa beredar bebas di negara mayoritas muslim. Huruf E merupakan singkatan dari Europe, sedangkan aturan penomoran dalam E-number mengikuti International Numbering System (INS) yang ditetapkan oleh komite Codex Alimentarius. Dari kode E-number tersebut, ada beberapa yang berkemungkinan sangat besar bersumber dari babi yaitu E120 yaitu kode untuk Karminer, E441 kode untuk gelatin, E904 untuk kode Shellak, E920 kode untuk L-Cystein hydrokoloid, dan E921 kode untuk L-Cystine.

Ada juga E-number yang masuk kedalam golongan syubhat seperti E322 yaitu kode untuk Lesitin yang bersifat syubhat karena tidak diketahui sumber hewani nya apa. Kode E470-E48 dan E430-E495 yang merupakan kode untuk emulsifier dari aneka senyawa garam atau ester dari asam lemak. Status kehalalannya juga tergantung asam lemak yang dipakai. Jika ia berasal dari lemak hewan haram atau hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i maka statusnya haram. Lalu kode E542 – E545 adalah kode untuk anti-caking agent atau bahan anti gumpal. Tepung tulang (E542) dan kalsium polifosfat (E544) ini akan haram jika berasal dari hewan haram. Kode E621 – E623 yang merupakan kode untuk penyedap masakan seperti MSG, mononatrium glutamate, monopotassium glutamate, dan calcium glutamate juga termasuk dalam haram jika dalam pembuatannya dikulturkan pada bangkai hewan haram. Adanya hubungan jika-maka dalam penjelasan deskripsi E-number tersebut lah yang menunjukkan adanya syarat – syarat tertentu yang akan menjadikan produk tersebut halal atau haram. Hal ini membuatnya menjadi syubhat dikarenakan tidak jelasnya informasi mengenai sumber maupun prosesnya.

Well, dari semua contoh ingredient yang tersembunyi status kehalalannya itu membuat kita, umat muslim, untuk terus waspada terhadap produk makanan yang ada. Hal yang pertama kali diperhatikan mestinya adalah ada atau tidaknya sertifikasi halal untuk produk tersebut. Selain itu, seharusnya kita lebih waspada jika makanan tersebut diproduksi oleh produsen negara mayoritas non muslim dan mengandung lemak hewani maka hampir pasti lemak tersebut bersumber dari babi atau hewan halal yang proses penyembelihannya tidak dilakukan berdasarkan syariat islam sehingga sebaiknya produk tersebut tidak dikonsumsi. Terakhir, yang paling penting menurut saya adalah berdoa sebelum makan/minum agar Allah swt senantiasa melindungi kita.

🙂

Kegalauan

Bagaimana kalau kita berbagi pikiran saja supaya pikiran kita sedikit ringan dan tak lagi terbebani segala macam uneg-uneg itu? Mungkin dengan begitu kita bisa meluruskan benang yang kusut dan menjadikannya pelajaran bagi masing – masing kita. Mungkin dengan begitu kita bisa menemukan pemahaman lain yang nantinya akan menambah kacamata pandang kita. Bukankah dunia terlalu bias jika hanya dipandang melalui satu kacamata saja?

Bagaimana kalau kita saling mengajari tentang keteguhan dan ketegaran? Dengan begitu kita bisa merasakan hal – hal diluar ekspektasi perasaan kita. Mungkin dengan begitu kita bisa menemukan alasan – alasan lain mengapa itu begini dan mengapa ini begitu. Mungkin dengan begitu kita bisa saling meneladani dan memberi contoh.

Bagaimana kalau kita saling menyemangati dan memberi dukungan? Barangkali ada semangat dalam diri kita masing – masing yang tidak bisa kita dapatkan dari orang lain selain dari masing – masing kita. Barangkali ada saran yang bisa kita saling terima atau beri. Barangkali kita adalah orang baru bagi masing – masing kita dan menjadikan kita tidak asing lagi satu sama lain.

Bagaimana kalau kita belajar untuk menghapus hal – hal yang sudah tak patut untuk sering diingat? Meskipun tak sepenuhnya terhapus. Paling tidak sudah masuk ke recycle bin otak kita. Supaya kita tak lagi terjebak dalam kenangan pahit ataupun manis yang hanya ingin kita ingat disaat – saat tertentu. Supaya otak kita mendahului kenangan – kenangan yang sebenarnya lebih tepat untuk kita ingat disaat yang tepat pula.

Bagaimana kalau kita itu adalah aku dan kamu?

Ke(tidak)pastian

Ada kalanya hal yang tadinya kamu pikir menyebalkan menjadi sesuatu yang mendadak kamu sukai bahkan candui. Seperti ketidakpastian. Terkadang, ketidakpastian membuatmu merasa lebih nyaman, sekalipun tidak melegakan. Seringnya kepastian menusukmu perlahan, membuatmu bersusah hati dan gundah dikala kepastian itu akhirnya hilang. Hilang dari hadapan namun masih menyisakan jejak – jejak yang seolah sedang berkata “hey, find me if you can“. Yang terkadang masih datang mampir sebentar saja kemudian pergi dan menghilang lagi. Menjengkelkan, bukan? Lalu kamu seperti kehilangan fokus mu sendiri. Banyak waktu terlewatkan untuk mengikuti jejak – jejak yang menggodamu itu. Dan kamu pun terlena ketika ia ditemukan lalu kembali kebingungan ketika ia hilang lagi, yang entah untuk ke berapa kalinya.

Tidak dengan ketidakpastian.

Ketidakpastian tidak membuatmu percaya sepenuhnya bahwa yang disoalkan itu akan diberikan sampai yang disoalkan itu terjadi. Ketidakpastian membuatmu menjadi manusia yang lebih waspada dan berusaha lebih untuk menjadikan keinginanmu itu terkabulkan. Ketidakpastian akan membuatmu fokus pada proses untuk mendapatkan keinginanmu itu. Bukan pada keinginanmu itu sendiri. Ketidakpastian memberimu zona nyaman sekaligus berbahaya yang akan menantang dirimu.

Tapi, itu hanya terkadang.